Menu

coiga

AYO GABUNG

KARYA ANDA KAMI NANTIKAN

TENIS COI menantikan karya Anda untuk mengisi konten di situs ini.
Baik itu tulisan maupun foto tentang pemain, klub, pengurus Pengkot/Pengkab, Pengprov dan PP Pelti, turnamen dan kegiatan tenis lainnya. Kirim karya tulis atau karya foto Anda ke e-mail: akumemangcoi@yahoo.com.

Jumat, 08 Agustus 2008

MITRA KENCANA WOMENS CIRCUIT: Kini Tergantung Pada Sandy

INA TENNIS - JAKARTA - Terbuka peluang untuk mewujudkan All Indonesian Final pada tunggal putri turnamen tenis internasional Mitra Kencana ITF Womens Circuit. Bisa tidaknya hal itu terwujud kini tergantung pada Sandy Gumulya yang di semifinal bertemu pemain China, He Chun Yan. Satu tiket ke final sudah menjadi hak Indonesia yang diperebutkan oleh Beatrice Gumulya dan Lutfiana Aris Budiharto.

Tugas penentuan itu berada di pundak Sandy setelah pemain muda Indonesia, Grace Sari Ysidora gagal menghadang He Chun Yang dalam perempatfinal yang berlangsung di Pusat Tenis Kemayoran, Jakarta, Kamis (7/8). Sebenarnya Grace punya kans untuk menang namun karena kondisinya kurang fit maka dia harus takluk 3-6, 1-6. Grace tidak bisa tampil maksimal karena menderita masuk angin sehingga sempat muntah di lapangan.

“Kans Grace untuk menang sebenarnya ada. Namun karena dia sakit maka tidak bisa tampil dengan kondisi fit. Dia kemarin (Rabu – red) malam muntah sehingga dia lemes. Bisa masuk angin tapi bisa juga yang lainnya seperti cape,” ujar pelatih Grace, Deddy Tedjamukti.

Kemenangan atas Grace itu mengantar He Chun Yang bertemu Sandy di semifinal, Jumat (8/8). Sandy sebagai unggulan utama melangkah ke semifinal lewat kemenangan mudah 6-0, 6-1 atas unggulan tujuh Kim Jin Hee (Korea Selatan).

Dua wakil Indonesia lainnya, Beatrice dan Lutfiana melangkah setelaha menang straight set atas lawan-lawannya. Beatrice menang 6-2, 6-1 atas Cassandra Barr (Australia). Sedangkan Lutfiana menyingkirkan unggulan delapan Nguyen Thuy Dung (Vietnam) 6-3, 6-2.

Sandy yang pekan lalu menjuarai Solo Open Womens Circuit mengaku tidak terbebani menjadi penentu bisa tidaknya mewujudkan final sesama pemain Indonesia sekaligus memastikan gelar untuk tuan rumah. Pasalnya dia tampil dalam turnamen di Solo maupun di Jakarta ini sebagai pengisi kekosongannya untuk bertanding karena tidak ada turnamen berhadiah 25.000 dolar yang terdekat saat ini. “Ya saya anggap sebagai ajang untuk mengisi kekosongan pertandingan sekalgus juga menguji latihan,” ujar Sandy saat ditemui usai pertandingan di Kemayoran.

Pemain putri nomor satu Indonesia ini mengaku belum pernah bertemu He Chun Yan. Namun secara selintas dia sudah mengatamasi permainan calon lawannya itu. “Dia cukup konsisten dan juga ulet ya.. Jadi saya tidak boleh lengah,” kata putri dari pasangan suami istri Rudy Gumulya dan Siantiningsih yang mantan atlet nasional balap sepeda dan loncat indah itu.

Bahkan jika Sandy mampu melaju ke final maka terbuka juga peluang untuk mewujudkan Perang Saudara Gumulya di partai puncak. Itu pun dengan syarat, Beatrice yang adik kandung Sandy bisa menang atas Lutfi. Ketika hal itu dikemukakan kepada Bea – panggilan akrab Beatrice – dia hanya tersenyum.

Pada nomor ganda, Indonesia juga mempunyai peluang untuk merebut gelar setelah duet Angelique “Angie” Widjaja/Lisa Andriyani melaju ke final. Mereka di semifinal, Jumat, menang sempurna 6-0, 6-0 atas Kim Kun Hee/Harshini Reddy (Korsel/Australia). Ada keunikan dari Kim/Reddy. Mereka melaju ke semifinal setelah menang walk over (wo) dua kali sehingga tidak sempat mengayunkan raket di lapangan. Ketika bisa main melawan Angie/Lisa ternyata mereka langsung kalah.

Di final, Angie/Lisa akan bertemu Chen Yi/Kim Jin Hee (Taiwan/Korsel) yang menempati unggulan utama. Mereka di semifinal menundukkan duet Indonesia, Grace Sari/Septi Mende 6-1, 6-1.

Tidak ada komentar: