“Ya apa yang mau saya katakan lagi. Inilah kondisi pemain kita. Namun kalau ditanya perasaan saya ya jelas saya sedih tidak ada petenis Indonesia yang lolos ke olimpiade,” ujar Ketua Umum PP Pelti, Martina Widjaja.
Dalam wawancara dengan telepon saat kesibukannya memimpin rapat dan bersiap untuk berangkat ke Olimpiade Beijing, Martina mengungkapkan PP Pelti sudah melakukan beberapa langkah agar petenis Indonesia bisa lolos ke olimpiade kali ini. Termasuk mengajukan permohonan wild card melalui KOI ke IOC lewat jalur kerjasama olimpic solidarity maupun PP Pelti ke ITF (Federasi Tenis Internasional). Namun karena peringkat dunia pemain Indonesia sangat jauh maka peluang untuk mendapat wild card itu sangat berat. Pasalnya ada banyak pemain Asia yang peringkat dunianya jauh lebih baik juga mengajukan hal yang sama.
Sebenarnya dia tidak puas melihat kondisi ini. Namun para pemain saat ini justru sudah merasa puas dengan apa yang dicapai sekarang. “Bukan saja puas dengan juara turnamen internasional yang paling bawah namun puas dengan juara turnamen lokal,” kata wanita pertama Indonesia yang terpilih memimpin PP Pelti dua kali masa bakti itu.
Seharusnya, ucapnya, pemain Indonesia lebih keras lagi mempersiapkan diri untuk bisa bersaing di level dunia. Belum puas dengan apa yang diraih saat ini. Bagaimana pun apa yang dicapai sekarang belum siap untuk tingkat dunia.
“Apa sih yang tidak saya lakukan untuk meningkatkan prestasi pemain kita. Pelatih bagus baik fisik maupun tehnik sudah saya datangkan. Namun ketika diberi latihan lebih keras pemain kita mengeluh kekerasan,” tegasnya.
Jadi ke depan, semuanya tergantung kepada para pemain. Siap tidak digembleng fisiknya. Siap tidak kerja keras. Yang lebih penting lagi mempunyai kemauan keras hidup di tenis. Tidak bisa setengah-setengah lagi.
“Jika memang dibutuhkan pelatih yang baik saya siap mendatangkan. Misalnya pelatih Andy Roddick, Tarik Benhablles saya datangkan.”
Martina mengingatkan, jika tidak ada perubahan sikap itu maka perjuangan ke depan akan tambah berat. Apalagi sekarang pemain kita dari sisi fisik terlihat kurang mendukung. Buktinya untuk turnamen futures dan womens circuit banyak yang sakit. Begitu juga ketika di PON.
Bahkan hal itu juga dialami oleh petenis muda harapan Indonesia, Christopher Benjamin Rungkat. Dia yang sukses merebut tiga medali emas tidak bisa tampil maksimal di Indonesia F1 Futures Jakarta karena sakit. Kemudian dia absen di Indonesia F2 Balikpapan.
“Terlihat Christo fisiknya masih lemah. Dia itu bisa 100 besar dunia. Namun tidak cukup dengan bakat saja namun harus ditunjang fisik yang prima.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar