- Ya, mulai tahun ini, format pertandingan CBTC berubah. Hanya ada 12 pemain yang akan bertanding dalam sistem Round Robin. Semua pemain yang menjadi peserta harus pernah menjuarai turnamen seri internasional sepanjang tahun ini, kecuali pemegang wild-card.
Jika turnamen-turnamen sebelumnya digelar di lapangan outdoor yang panas, kali ini turnamen digelar di lapangan indoor. Tepatnya di sebuah hotel ballroom dengan tinggi plafon minimal 10 meter yang disulap menjadi arena pertandingan. Tonny menjadi penanggung jawab atas kelayakan lapangan itu.
Usaha turun-temurun
Siapa yang menyangka jika pria kelahiran Tulung Agung, Jatim, itu akhirnya menjadi pembuat lapangan tenis berskala internasional. Tonny bahkan menjadi salah satu dari sedikit konstruktor lapangan di Indonesia yang menguasai pembuatan empat jenis permukaan lapangan tenis. Itu semua berkat pengalamannya bersama Lie Swie Wat, ayahnya, yang merintis usaha pembuatan lapangan tenis tersebut.
"(Pengetahuan saya) dari orangtua, dari ayah, jadi sejak 1950 sudah membuat lapangan tenis. Saya dari kecil juga sering dibawa membantu (pembuatan lapangan)," tutur kelahiran 58 tahun itu mengawali pembicaraannya dengan KOMPAS.com.
Selain belajar dari ayah, pria yang pernah juga memiliki bekal pengetahuan akademis dengan belajar ilmu kartogragi di Jurusan Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. "Jadi kita tahu untuk tanah-tanah yang stabil untuk lapangan," tambahnya.
Sejak itulah, usaha yang dirintis keluarga Lie Swie Wat itu berkembang. Hingga kini, aku Tonny, keluarganya telah membuat seribuan lapangan tenis di seluruh daerah di Nusantara. "Di Jakarta ada ratusan. Di Balai Sidang, di Senayan, termasuk di Cendana 5 waktu zaman (Presiden) Soeharto, itu saya yang bikin," ujarnya.
Belajar dari Perancis
Meski ilmu membuat lapangan tenis diperoleh dari sang ayah, pengetahuan Tonny tentang lapangan plexipave justru berasal dari mancanegara. Ketika Kedutaan Perancis di Indonesia menggelar eksibisi tenis di Balai Sidang Senayan Jakarta pada 1988, Tonny memulai mendapatkan ilmu membangun lapangan tenis di dalam ruang, seperti yang ia buat di Bali kali ini.
"Dulu saya tahun '88 itu diajari pemborong Perancis. Jadi saya diajari bikin kayu-kayu di Hotel Borobudur, besoknya dibawa ke Balai Sidang karena diberi waktu satu minggu untuk masang," kenangnya.
Kini setelah 21 tahun sejak pembuatan lapangan plexipave pertamanya itu, Tonny kembali menerapkan pengetahuannya untuk membuat lapangan yang sama di Bali International Conventional Center (BICC), The Westin, di Nusa Dua. Namun, kali ini ada tantangan tersendiri.
"Di sini lantainya berkarpet, jadi waktu pasang particle board agak goyang. Terpaksa harus ditambah multipleks biar lebih tebal jadi 4 cm. Setelah itu baru dicat dengan plexipave," papar Regina Viviene selaku manager operasional dalam turnamen ini.
"Di atas karpet, kita kasih plastik dulu supaya engga kotor. Terus (ditumpuk dengan kayu) multipleks, lalu particle board dan diberi plexipave dengan ketebalan 1-2 mm," jelas Tonny, yang sudah dipercaya menjadi penanggung jawab lapangan sejak turnamen ini masih bernama Wismilak International pada 2001.
Menghabiskan 3.500 sekrup
Untuk mengerjakan satu lapangan seluas 38,7 x 17,8 meter itu, Tonny dibantu oleh sepuluh orang pekerja yang dibawanya dari Malang. Setelah penggarapan 1.800 kursi penonton di sekitar lapangan selesai dikerjakan, rombongan dari Malang ini mulai melakukan pekerjaannya pada 21 Oktober 2009. Mereka memasukkan kotak-kotak kayu berukuran 2,44 x 2,24 meter ke dalam ruangan. Kotak-kotak ini kemudian digabungkan menjadi satu dan disekrup. Total diperlukan kurang lebih 3.500 sekrup untuk memperkuat jalinan kayu-kayu itu.
"Kalau engga ngelihat waktu masang, engga seru. Kayunya dinomori, kalau engga pas, ya ditendang biar klop," ungkap Regina yang lebih akrab dipanggil Iin.
Semua bahan baku lapangan ini, mulai dari kayu-kayu sebagai alas hingga cat plexipave asli buatan Indonesia. "Plexipave ini saya dapat dari home industry di Jakarta, di daerah Grogol," ujar Tonny.
Setelah dua hari, pengerjaan lapangan itu selesai, termasuk pemasangan lampu berkekuatan 2.200 lux di sekeliling lapangan. Biayanya? "Total sekitar Rp 300 juta untuk bikin lapangan, Rp 800 juta untuk sewa kursi penonton," kata Iin.
Sampai beberapa jam sebelum pertandingan dimulai, Tonny mengakui tidak pernah ada komplain dari pemain ataupun WTA. Jadi, lapangan rakitan dalam negeri ini sudah memenuhi standar internasional. Mungkin setelah ini Tonny masih akan menjadi pembuat lapangan untuk turnamen internasional berikutnya, bersama putranya yang kini juga mulai menggeluti usaha tersebut. (sihc/skoc)
***"JANGAN LEWATKAN: CINTA TENIS INDONESIA siap mengimformasikan kegiatan tenis di klub, Pengkot/Pengkab, Pengprov, PP Pelti, turnamen, kepelatihan, perwasitan, profil pemain junior dan senior, pembina, pelatih dan wasit serta sponsor dan lain-lain. Hubungi kami: HP: 081513873418 atau e-mail: faktorutama@yahoo.com. Kami nantikan." ***