Menu

coiga

AYO GABUNG

KARYA ANDA KAMI NANTIKAN

TENIS COI menantikan karya Anda untuk mengisi konten di situs ini.
Baik itu tulisan maupun foto tentang pemain, klub, pengurus Pengkot/Pengkab, Pengprov dan PP Pelti, turnamen dan kegiatan tenis lainnya. Kirim karya tulis atau karya foto Anda ke e-mail: akumemangcoi@yahoo.com.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Deddy dan Febi Prihatin Dengan Kecilnya Uang Saku Petenis Nasional

Sumber Asli -- CINTA TENIS INDONESIA - JAKARTA - Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapangan Indonesia (PP Pelti) harus membuat sistem perekrutan pemain nasional dan pemberian penghargaan yang jelas, standar, dan baik agar tidak menimbulkan polemik di kalangan komunitas tenis Indonesia.
- "Sekarang ini tidak ada standar baku yang jelas dalam perekrutan petenis untuk memperkuat tim nasional. Penghargaan kepada para pemain juga dirasakan kurang memadai sehingga menimbulkan keprihatinan banyak pihak," tutur mantan pelatih nasional Deddy Prasetyo di Jakarta, Senin (2/8).

Komentar tersebut dilontarkan sehubungan dengan uang saku petenis yang jumlahnya hanya Rp 3 juta saat memperkuat tim Indonesia melawan Thailand pada babak kedua Grup II zona Asia Oceania Kejuaraan Tenis Berfegu Putra Piala Davis.

Selain jumlah itu para pemain juga mendapat masing-masing Rp 3 juta bantuan mengikuti turnamen. Sebelum tampil melawan Thailand, para pemain mengikuti turnamen di Bandung, Tarakan, dan Tegal.

"Jujur saja uang saku Rp 3 juta jelas tidak sebanding dengan jerih payah yang telah diberikan para pemain saat memperkuat tim Indonesia menghadapi regu Thailand. Begitu juga bantuan untuk mengikjuti turnamen sejumlah Rp 3 juta, yang ini juga terlalu kecil," Deddy, menjelaskan.

Deddy juga mengungkapkan, jumlah bantuan tersebut masih terpaut jauh dari biaya-biava yang harus ditanggung pemain. "Tiket pesawat terbang Jakarta ke Tarakan saja pergi-pulang sudah mencapai Rp 3 juta. Belum lagi biaya penginapan, perlengkapan, dan sebagainya," papar Deddy.

Jika pemain mempertanyakan masalah tersebut, lanjut Deddy, bukan berarti mereka mata duitan dan tidak nasionalis. Untuk menjadi pemain nasional, para pemain telah mengorbankan banyak waktu, biaya, tenaga, dan pemikiran.

Deddy mengingatkan, bila pemain dihargai seperti itu, akan banyak petenis yang menolak dipanggil tim nasional. Dia juga menyatakan jangan ada Pengurus PP Pelti yang menyalahkan pemain bila mereka harus ikut turnamen "tarkam" atau antar-kampung, kalau mereka diperlakukan seperti itu.

Untuk memperbaiki sistem perekrutan pemain, Deddy menyarankan PP Pelti kembali ke aturan yang lampau. "Di waktu Pelti dipimpin Pak Sarwono (Sarwono Kusumaatmadja, mantan ketua umum PP Pelti --Red.) pernah ada sistem perekrutan pemain yang baik. Bahkan kemudian ada standar uang saku dan pola promosi dan degradasi," kata Deddy, pelatih klub Detec yang telah melahirkan sederetan petenis nasional.

Sementara, mantan pemain nasional, Febi Widhiyanto, mengaku ikut prihatin dengan kecilnya jumlah uang saku pemain tim Piala Dvis lalu.

Tim Indonesia saat itu diperkuat oleh Nesa Artha, Christoper Rungkat, Sunu Wahyu Trijati, David Agung Susanto.

Menurut Febi, jumlah tersebut masih kalah jauh dibandingkan dengan eranya. "Dulu sekali ikut Piala Davis uang saku kami bisa mencapai total Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Bonusnya kalau kami menang dapat mencapai Rp 50 juta per pemain. Sebaliknya kalau kalah kami juga mendapat bonus tetapi tidak sebesar kalau menang," tuturnya. (CTI-1)

***"JANGAN LEWATKAN: CINTA TENIS INDONESIA siap mengimformasikan kegiatan tenis di klub, Pengkot/Pengkab, Pengprov, PP Pelti, turnamen, kepelatihan, perwasitan, profil pemain junior dan senior, pembina, pelatih dan wasit serta sponsor dan lain-lain. Hubungi kami: HP: 081513873418 atau e-mail: faktorutama@yahoo.com. Kami nantikan." ***